Desainer dan Alat Desain

7 July 2020 · Career, Design

Ada satu pertanyaan menarik di Quora: Apakah seorang desainer UI/UX sudah cukup menguasai Figma?

Pertanyaan polos namun berbahaya.

Alat desain itu ada banyak. Alat desain itu selalu dikembangkan terus menerus. Mustahil untuk menguasainya karena besok kan ada yang baru.

Anggap saja saya ingin pergi dari Blok M ke Bundaran HI.

Ada banyak pertimbangan untuk plesiran saya ini.

  1. Waktu. Saya ingin sampai di tujuan jam berapa.
  2. Uang/harta. Ongkos yang saya mampu keluarkan ada berapa, lalu apakah saya punya motor/mobil/sepeda atau tidak.
  3. Kemampuan. Kalau saya punya kendaraan sendiri, belum tentu saya bisa mengendarainya.
  4. Kemacetan.
  5. Dsb.

Dari pertimbangan ini saya mendapat banyak pilihan:

  1. MRT. Tinggal bayar sekian ribu perak, duduk manis, sampai di tujuan dalam hitungan menit.
  2. Transjakarta. Bisa naik koridor 1 karena langsung ke tujuan tanpa transit.
  3. Jalan kaki ke Ratu Plaza lalu naik bis TJ GR1. Gratis.
  4. Naik sepeda. Hitung-hitung sekalian untuk membakar nasi padang.
  5. Naik ojol.
  6. Naik taksi.
  7. Naik taksol.
  8. Nebeng. Cari teman yang searah.
  9. Dsb.
  10. (Saya tidak bisa naik motor, saya tidak punya mobil, jadi kedua opsi ini tidak ada.)

Ternyata ada banyak jalan menuju Bundaran HI.

Misalnya saya hanya ngotot menguasai naik taksol untuk ke HI, bagaimana kalau saya tidak punya uang? Bagaimana kalau ada blackout? Bagaimana kalau para pengemudi taksol sedang berdemo?

Memakai tool desain sama seperti bepergian: ada banyak pertimbangan, ada banyak pilihan. Kalau seorang desainer memutuskan hanya ingin memakai 1 alat saja seumur hidupnya, bagaimana kalau perusahaannya atau kliennya memakai alat yang lain?

Hal ini sering terjadi.

Dulu, waktu masih di Gojek dan saya diharuskan membangun tim saya sendiri, saya berusaha mengajak teman saya untuk bergabung sebagai web designer. Peluang ini langsung hilang karena teman saya berkata, “tapi gue cuma bisa pake Photoshop.”

Waktu di IBM saya bekerja untuk beberapa klien dan tiap klien memiliki kebutuhan dan kemampuannya masing-masing. Ada yang mampu membayar banyak jadinya kami memakai Sketch, Abstract, dan Invision. Ada juga yang hanya butuh desainnya saja dan tidai mau keluar uang untuk bayar tool desain jadi kami pakai XD yang gratis itu. Ada lagi yang ingin kolaborasi secara real time jadi kami pakai Figma.

Alat desain secara garis besar sama: Untuk mendesain. Konsepnya sama seperti mobil: Dari yang murah sejuta umat sampai yang sejuta dolar, sama-sama bisa untuk bepergian. Yang membedakan hanya fiturnya saja.

Desainer itu bisa dibilang seperti dokter. Apakah karena di garis depan perang tidak ada ruang operasi yang steril lalu tim medis langsung menolak mengoperasi tentara yang terluka? Apakah karena perusahaan yang diincar tidak memakai Figma lalu si desainer langsung membatalkan lamarannya?


Have any questions or comments about this post? Contact me using the form on this page or on Instagram at @RifatNajmi.