Cara mendesain logo yang filosofis dan mudah diingat

2 September 2020 · Design

Makna logo

Pertama, jangan terlalu menghabiskan waktu untuk memikirkan makna mendalam saat mendesain logo.

Yang peduli soal makna logo hanya orang yang membuat dan pemilik logonya. Masyarakat tidak akan memikirkannya kecuali untuk beberapa logo yang menyangkut “harga diri” mereka seperti logo kompetisi internasional yang diselenggarakan di kota/negara mereka macam Piala Asia, Piala Dunia, dsb.

Lalu, “makna mendalam” bersifat subyektif. Menurut saya logo Apple justru memiliki makna yang paling mendalam karena tidak bermakna sama sekali: apelnya digigit supaya tidak dikira buah ceri.

Janoff says the single bite out of the Apple logo originally served a very practical purpose: scale. The size of the bite showed that the shape was an apple, not a cherry or any other vaguely round fruit.

Mental Floss

Apakah Anda juga menganggap makna logo Apple mendalam? Belum tentu.

Selain itu “makna mendalam” tidak memberikan apa-apa untuk konsumen. Apakah orang-orang kaya memakai tas LV karena makna logonya? Apakah saya memakai MRT karena makna logonya? Apakah Anda memakai Quora karena makna logonya?

Memang, desainer terkadang perlu “memaknai” logo yang mereka buat agar bisa diterima oleh klien, seperti contoh logo Yahoo! baru yang dibuat oleh Pentagram, studio desain ternama yang berbasis di New York.

Logo Yahoo!

The “y” and “!” of the logo are both set at an angle of 22.5 degrees, a forward tilt that suggests a sense of momentum and excitement.

Pentagram

Pentagram mengatakan bahwa huruf “y” dan tanda seru dibuat miring 22,5 derajat untuk menggambarkan sensasi momentum dan kegembiraan. Kenapa miring 22,5 derajat dianggap menggambarkan sensasi momentum dan kegembiraan? Kenapa harus 22,5 derajat? Kenapa tidak 45 derajat atau 11,25 derajat? Menurut saya ini hanya akal-akalan untuk “mengilmiahkan” selera agar bisa mendapat approval dari klien.

(Catatan: Ada yang menganggap penggunaan huruf italic bisa dianggap merepresentasikan excitementtapi angka 22,5 derajat tersebut tentunya tidak demikian.)

Saat membutuhkan adanya makna pada logo (misal untuk mendapat approval) lakukanlah dengan cara yang sesuai. Cara yang sesuai salah satunya adalah memakai teori semiotika alias bukan asal ceplok seperti logo-logo pemerintahan Indonesia.

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda dan makna. Penggunaan semiotika dalam logo bisa membantu dalam memberikan makna yang sesuai.

Anggap Anda ingin membuat logo yang menggambarkan cinta. Dari hasil brainstorming, riset, dsb ketemu satu kata kunci: bunga.

Saling mencintai -> Pacaran

Pacaran -> Memberi bunga

Bunga -> Menggambarkan cinta

Kata kunci ini Anda gunakan untuk merancang logonya dan Anda akhirnya logo cinta-cintaan Anda adalah ini:

Rafflesia arnoldi
Wikimedia

Ini adalah contoh asal-asalan, asal menempelkan makna pada tanda, asal menganggap bunga apapun bisa bermakna cinta.

Dalam semiotika versi Saussure ada dua komponen penting yang membentuk sebuah tanda:

  1. Signifier (penanda), yaitu suara, gambar, atau kata.
  2. Signified (petanda), yaitu konsep mental yang terkait dengan signifier.
  3. Keduanya lalu membentuk sign (tanda).

Anggap saja penandanya adalah kaktus.

Opuntia cactus
Pixabay

Melihat kaktus membuat saya langsung takut tertusuk (petanda). Sensasinya tidak menyenangkan. Ini menjadi tanda bagi saya untuk berhati-hati di dekatnya.

Namun begitu, kedua kura-kura saya menanggapinya berbeda.

Gopher tortoise eating cactus pad
Gambar hanya ilustrasi, kura-kura saya berbeda jenis dan belum sebesar ini – Wikimedia

Mereka justru langsung mangap untuk menyantapnya. Kaktus opuntia yang lebih dikenal sebagai kaktus centong adalah hidangan lezat bagi mereka, tapi derita bagi saya yang harus menghidangkannya.

Ini artinya sebuah tanda bisa memiliki makna yang berbeda-beda, jadi tidak bisa asal main ceplok sebuah konsep untuk memaknai sebuah tanda.

Petanda bergantung dari konsep mental dan ini dipengaruhi juga oleh kemampuan seseorang maupun kebudayaannya.

Contoh lainnya adalah warna merah. Bagi Anda yang able-bodied dan sudah di-brainstorm sejak SDAnda bisa mengatakan kalau “merah adalah darah” dan “merah adalah berani”. Bagi penderita achromatopsia, merah dan biru justru tidak terlihat bedanya, jadi konsep “merah = berani” belum tentu dipahami oleh mereka.


Logo yang mudah diingat

Ada yang mengatakan bahwa agar mudah diingat sebuah logo harus dibuat simpel dan gampang digambar ulang oleh anak kecil.

Siapa yang bisa menggambar ulang logo ini hanya memakai ingatan?

Logo Starbucks

Saya tidak bisa walau nyontek sekalipun, dan saya tidak sendirian. Namun begitu saya tahu kalau ini logo Starbucks walau tanpa adanya tulisan di logonya. Ini adalah berbagai usaha orang untuk menggambar ulang logo Starbucks memakai ingatan:

Nah, saya juga tahu di bawah ini adalah logo Apple, salah satu logo tersimpel di dunia, tapi orang-orang juga kesulitan menggambar ulang logo tersebut.

Ada lagi logo-logo terkenal lainnya:

Kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian adalah mereka bisa mengingat logo yang kompleks* sekalipun tetapi kesulitan untuk menggambar ulang bahkan untuk logo yang sangat simpel.

* kompleks: mayoritas mampu mengambil elemen-elemen penting dalam logo (bentuk, warna, komposisi, dsb).

Dapat disimpulkan bahwa kompleksitas logo tidak memengaruhi daya ingat seseorang.

Membahas logo tidak cukup dari kacamata visual saja (karena akan terjebak soal selera), tapi perlu dilihat sebagai kesatuan brand: seberapa sering Anda terpapar oleh logo tersebut (pemasaran); seberapa baik/buruk pelayanannya saat menggunakan situs web/aplikasi (user experience), hingga berurusan dengan layanan pelanggannya (customer experience), dsb.

Saya rasa pemikiran pemasaran di atas yang melandasi adanya meme ini:


Catatan: Ini adalah salinan jawaban saya di Quora. Saya akan menulis ulang jawaban yang saya suka di Quora ke dalam blog saya.


Have any questions or comments about this post? Contact me using the form on this page or on Instagram at @RifatNajmi.