Desainer UI/UX dalam meme

27 November 2019 · Design

Ada pertanyaan yang sangat menggelitik di Quora: Jika UI/UX hanya perlu mendesain dan membuat alur kerja suatu aplikasi atau website, lalu apa susahnya menjadi desainer UI/UX?

Kalau kerjaan desainer UI/UX cuma mendesain dan membuat alur kerja, itu soal gampang*.

Pada umumnya keseharian desainer UI/UX adalah sebagai berikut:

Membuat userflow.

Membuatnya sih mudah, cuma sambung-sambungkan garis saja. Kenapa membuatnya itu yang susah.

Kenapa dari layar A harus ke B, kenapa tidak ke C? Kenapa harus A ke C, kenapa tidak semuanya ada di layar A saja jadi tidak pindah-pindah layar?

Membuat userflow membutuhkan pengetahuan soal: tujuan bisnis, kemampuan teknologi, dan kebutuhan pengguna. Dalam kata lain, seorang UI/UX Designer selain belajar seni dan desain juga harus belajar/mengerti:

  1. Bisnis,
  2. Teknologi, dan
  3. Psikologi, statistik, dsb.

Tidak perlu sampai Ph.D, cukup mengetahui kenapa harus ini itu.

Membuat wireframe.

Lalu, setelah itu membuat wireframe agar userflow-nya memiliki wujud. Membuatnya juga mudah walau kadang ada yang mengganggu.

Kenapanya yang susah. Mempresentasikannya juga sama susahnya.

Kenapa harus pakai pola A, kenapa tidak B. Kenapa susunan kartunya masonry, kenapa tidak list. Kenapa tombolnya di kanan, kenapa tidak di kiri. Kenapa sidebar di kanan? Kenapa sidebar di kiri? Masih banyak lainnya.

Lalu wireframe ini harus dipresentasikan ke tim, bos, dan/atau klien.

Desainer sudah membayangkan presentasinya akan seperti apa..

Tapi ternyata..

Biasanya orang yang di luar tim tidak mengerti apa itu userflow dan wireframe dan bertanya, “kok item putih,” dan mereka akan berkata ini:

Yang juga sering terjadi adalah permintaan-permintaan dari stakeholder/klien untuk desainnya.

Membuat visual (mockup dsb)

Bagian ini juga mudah, ada banyak aset dan alat yang memudahkan. Yang susah adalah, lagi-lagi, kenapanya.

Kenapa harus mengikuti tren? Kenapa tidak harus mengikuti tren? Kenapa birunya lebih terang 2%? Kenapa birunya lebih gelap 2%? Kenapa tombolnya lebih besar 2 pixel?

Lalu yang susah lagi adalah memakai perangkat lunaknya.

Juga saat bekerja sama dengan desainer lain.

Atau saat mereka meminta 1.891.983.250.120 alternatif desain yang berbeda.

Testing

Melakukan testing ini mudah, cukup undang orang datang ke kantor lalu sodori layar yang mau dites. Yang sulit itu kenapa melakukannya, apa alasannya, apa yang mau dicari tahu, apa tindak lanjut dari penemuan tes, dan sebagainya.

Kadang perusahaan/klien malas melakukan testing. Alasannya banyak, mulai dari tidak ada waktu hingga tidak ada uang. Meyakinkan mereka untuk melakukannya sudah merupakan perjuangan tersendiri.

Lalu kalau berhasil meyakinkan untuk melakukan testing, jika tesnya tidak dirancang dengan baik, asal saja, bahkan pertanyaannya juga asal-asalan, ya sia-sia saja sesinya.

Tapi kalau testing ini dibuat dengan baik …

Ya tidak juga sih, kadang mereka melawan dengan pernyataan macam ini.


Lalu ada juga soal lainnya.

Misalnya, UX itu harusnya menjadi bagian yang sama pentingnya dengan bisnis dan teknologi.

Kalau UX tidak disertakan dalam perencanaan sejak awal…

… biasanya akan ada banyak masalah.

Padahal dalam proses yang baik desainer memulai jauh lebih awal dari developer/engineer

… dan meyakinkan orang-orang kalau UX itu diperlukan sejak awal juga perjuangan.

Desainer juga sering diminta membuat dokumentasi komprehensif mengenai hasil kerjanya, tapi ujung-ujungnya …


Penutup

*) Memang, mendesain dan membuat alur kerja suatu aplikasi atau situs web itu mudah kok. Tidak perlu menjadi desainer untuk melakukannya, tinggal pakai banyak tool yang tersedia di world wild web. Yang sulit adalah hal-hal yang tidak terlihat di belakangnya.


Catatan: Ini adalah saduran jawaban saya di Quora. Saya akan menulis ulang jawaban yang saya suka di Quora ke dalam blog saya.


Have any questions or comments about this post? Contact me using the form on this page or on Instagram at @RifatNajmi.