Perjalanan menuju CPACC

Perjalanan menuju CPACC

Perkenalan dengan aksesibilitas

Semua berawal di 2018 saat saya bekerja di IBM. Saat itu kantor ngasih banyak fasilitas termasuk membership gratis di Interaction Design Foundation (IxDF). Kalau lagi bosen ngerjain klien, saya beralih ke IxDF untuk upskill kemampuan saya, khususnya karena ini pertama kalinya saya menjadi UX Designer. Saya coba ambil semua yang berkaitan langsung dengan keseharian pekerjaan dan lama-lama mulai bosen belajar UX. Pas lagi browsing saya nemu satu topik berbeda: Accessibility.

"Sertifikat 'Accessibility: How to Design for All'"

Apaan nih? Saya penasaran. Saya coba ambil aja, pelajarin pelan-pelan di sela ngerjain proyek. Ternyata belajar ini ngebuat saya kaget: saya udah mengabaikan hak banyak orang! Sesuatu yang harusnya esensial malah dianggap opsional, add-on, atau bugfixing.

Nah apa itu aksesibilitas?

Ada banyak definisi aksesibilitas.

  • Aksesibilitas adalah kemudahan bagi semua orang, termasuk orang dengan disabilitas, untuk menggunakan produk, layanan, atau lingkungan tanpa hambatan.
  • Aksesibilitas adalah hak setiap orang untuk mendapatkan kesempatan yang setara dalam mengakses fasilitas, layanan, dan informasi.
  • Aksesibilitas adalah kemudahan fisik untuk masuk, berpindah, dan menggunakan ruang atau fasilitas.
  • Aksesibilitas mencerminkan komitmen masyarakat untuk menghilangkan hambatan partisipasi, baik yang bersifat fisik, sosial, maupun psikologis.

Menarik memang semua definisi yang saya temukan ini. Saya jadi sadar kalau aksesibilitas itu tidak selalu soal disabilitas, walau "pintu masuk" untuk mempelajarinya memang lewat pengetahuan tentang disabilitas.

"Diculik" A11yID

Kontrak saya habis di IBM dan saya masuk ke kantor baru. Di suatu kesempatan saya bilang ke atasan saya mau improve desainnya karena ga aksesibel tapi justru dapet resistensi seperti "ngapain ngedesain untuk minoritas?" Saya akhirnya mencoba cari sudut pandang lain memakai bahasa berbeda kayak “ini kurang kontras nih, saya aja ga bisa baca” untuk membungkus aksesibilitas dalam sudut pandang usability.

Lalu pandemi datang dan saya kehilangan pekerjaan. Saya mencoba cari-cari pekerjaan baru dan interview di banyak perusahaan. Ketika saya sampaikan bahwa aksesibilitas menjadi metrik pribadi saya, responnya kebanyakan kayak “emang berapa banyak sih yang kesulitan? Kenapa ga fokus ke mayoritas aja?”

"Twit Rifat: Di sini aksesibilitas itu cuma dianggep masalah angka doang ya. Beberapa kali interview kerja dan saya angkat aksesibilitas sebagai metrik saya dalam mendesain, responnya mayoritas kek gini: emang berapa banyak sih yang kesulitan? Kenapa ga fokus ke masalahnya mayoritas aja?"

Rasa frustasi ini saya torehkan di Twitter dan ga nyangka malah cukup viral dan saya bertemu dengan Maut (Rahma Utami). Saya beberapa kali diajak dia untuk berbagi soal aksesibilitas dalam pengalaman saya bekerja sebagai desainer. Awalnya saya menolak karena metode saya sporadis dan pragmatis, ga terstruktur, bahkan ga tau ini bener atau ngga. “Gapapa Fat, kita semua di sini masih belajar,” kata dia meyakinkan saya. Akhirnya saya ikutan berbagi soal WCAG untuk Desainer.

Sejak itu kalau ada yang mengundang saya menjadi pembicara, saya selalu minta topiknya soal aksesibilitas.

Serius mendalami aksesibilitas

Saya baru mulai serius mendalami aksesibilitas di awal 2024 saat Maut mengajak saya ikutan di Accessibility Bootcamp. Ga tanggung-tanggung, saya diminta pakai 3 topi berbeda di acara ini: tim seleksi, pengisi materi, dan mentor.

Kepala cuma satu tapi topinya tiga. Saya kewalahan dan makin menyadari kalau saya ga ngerti apa-apa. Gimana ya supaya saya lebih ngerti?

Saya juga pengen serius karena baru aja survive dari Guillain-Barré syndrome. Pengalaman memakai tongkat selama beberapa bulan membuat saya sadar kalau topik ini penting: aksesibilitas menghilangkan hambatan yang dibuat oleh masyarakat (secara tidak sadar).

Ikutan asosiasi

Saya butuh cara belajar yang lebih terstruktur. Kalaupun belajarnya masih self-learning, tapi harus "nyomot" materi dari tempat yang memang jelas.

Suatu hari saat surfing internet sana-sini, saya menemukan International Association of Accessibility Professionals (IAAP). Wah seru nih, sekumpulan orang yang ngerti topik ini!

Setelah mengumpulkan niat, akhirnya saya daftar jadi anggota asosiasi tepat pada 19 Juli 2024.

Pembayaran iuran anggota

Niatnya agak lama sih karena dulu pernah daftar 2 asosiasi desain di Indonesia tapi ga dapet apa-apa hehe untungnya ketakutan ini sirna setelah saya daftar:

  1. Ada orientasi anggota baru yang menjelaskan apa saja hak saya sebagai anggota.
  2. Ada banyak webinar gratis bagi anggota. (Sayangnya waktunya masih berorientasi Barat, jadi saya sering ketinggalan live-nya).
  3. Ada banyak kursus gratis bagi anggota.
  4. Ada forum anggota yang saling berbagi dan bertanya keseharian mendalami aksesibilitas di pekerjaan.
  5. Dan yang bikin saya kaget: Ada sertifikasi.

Hah? Ada sertifikasi? Sertifikasinya ada apa aja nih?

Berbagai sertifikasi di IAAP

Ternyata IAAP menawarkan 5 sertifikasi bidang aksesibilitas yang bisa diambil oleh anggota maupun umum.

  1. Certified Professional in Accessibility Core Competencies (CPACC): Sertifikasi mendasar yang memberikan kredibilitas bagi pemegangnya atas pengetahuan dasar tentang disabilitas, teknologi bantu, universal design, regulasi, dan standar seperti WCAG. Untuk bisa daftar sertifikasi ini harus menunjukkan pengalaman minimal 1 tahun di aksesibilitas.
  2. Web Accessibility Specialist (WAS): Ini sertifikasi yang lebih advance: Memberikan kredibilitas tentang kombinasi pengetahuan aksesibilitas dengan pengalaman kontekstual untuk menerapkannya. Bisa dibilang lebih technical karena harus menunjukkan pengalaman minimal 3 tahun bekerja di berbagai bidang seperti HTML, Javascript, usability testing, ARIA, ATAG, WCAG, dan sebagainya.
  3. Certified Professional in Web Accessibility (CPWA): Untuk dapat ini harus punya CPACC dan WAS sekaligus.
  4. Accessible Document Specialist (ADS): Sesuai namanya, ini untuk profesional yang kesehariannya berurusan dengan dokumen elektronik speerti PDF dan ePUB.
  5. Certified Professional in Accessible Built Environments (CPABE): Kalau CPACC soal fundamental dan WAS/CPWA/ADS soal digital, CPABE ini untuk dunia fisik. Sertifikasi ini sudah tidak ditawarkan lagi oleh CPACC.

Anggota bisa mendapatkan harga khusus untuk ujian sertifikasi, walaupun sebagai orang yang tinggal di Indonesia (dan negara berkembang lainnya) bisa dapat harga yang jauh lebih terjangkau. Untuk CPACC sendiri biayanya $410 untuk anggota, $540 untuk non-anggota, dan $170 untuk mereka yang tinggal di negara berkembang. Harga sertifikasi dari IAAP ini sangat terjangkau bahkan dibandingkan sertifikasi lain yang dijual oleh lembaga sertifikasi lokal.

Persiapan CPACC

Saya memutuskan untuk mengambil sertifikasi CPACC karena saya sudah tidak bersentuhan dengan coding lagi sejak 2018 di keseharian pekerjaan. Selain itu karena saya merasa masih baru di bidang ini walau sudah belajar sejak 2018.

Setelah mengikuti orientasi anggota baru, ternyata IAAP punya exam prep course untuk CPACC gratis bagi anggotanya. Jadi saya bisa belajar semua materi yang akan diuji, juga nyoba-nyoba practice exam. Yaudah, daftar lah saya di tanggal 6 Agustus 2024.

Ikutan exam prep course

Ada 3 domain dan 13 modul di kursus ini, sesuai dengan Body of Knowledge dari sertifikasi CPACC:

  1. Domain 1: Disabilities, Challenges and Assistive Technologies. Saya belajar tentang model teoritis disabilitas, hambatan yang sering dihadapi, teknologi bantu, dan etika berinteraksi dengan orang dengan disabilitas.
  2. Domain 2: Accessibility and Universal Design. Saya belajar tentang user centered design, manfaat aksesibilitas, aksesibilitas web, universal design, dan universal design for learning.
  3. Domain 3: Standards, Laws, and Management Strategies. Saya belajar tentang berbagai regulasi aksesibilitas (global, regional, nasional), standar yang berlaku seperti WCAG, dan cara mengintegrasikan aksesibilitas di organisasi.

Setiap akhir modul ada kuis yang bisa saya ikuti untuk mengulang kembali pelajarannya, lalu di akhir semuanya ada practice exam untuk saya pura-pura ujian sertifikasi CPACC.

Progress belajar CPACC exam prep

Saya merasa jumawa sih ikutan prep course ini. Hasil kuis saya hampir selalu 100%, hanya ada 2 "anomali" yang hasilnya jelek dan saya menyalahkan uji coba terapi Polymyositis saya saat itu. Di bagian practice exam pun hasilnya juga mantap, 92%!

Certificate of Completion - CPACC Exam Preparation

Akhirnya di 12 Maret 2025 saya menyelesaikan kursus ini.

Daftar sertifikasi CPACC beneran

Tiga hari setelahnya saya mulai yakin harus daftar sertifikasi. Mumpung masih fresh, kan, ingatannya. Saya kira setelah daftar, bayar, terus saya langsung bisa milih tanggal ujian. Ternyata ngga hehe

Jadi IAAP harus ngecek dulu nih kredibilitas saya, udah layak belum dapet sertifikasi? Untungnya pengalaman saya berkontribusi di Suarise dan A11yID membantu saya membuktikan kalau saya layak ikutan. Setelah itu baru saya dapet email untuk memilih tanggal ujian kira-kira 2 minggu kemudian.

Saat memilih tanggal ujian, saya ditawarkan akomodasi sesuai dengan kondisi saya. Aslinya ujian ini harus dikerjakan dalam waktu 120 menit. Nah berdasarkan kondisi yang saya input saat memilih tanggal, saya diperbolehkan mengerjakan dengan durasi 276 menit. Kondisi yang saya input saat itu seinget saya ada:

  • Frequent break time
  • Frequent snack time
  • Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua

Saya memutuskan tanggal 3 April 2025 jam 2 siang sebagai waktu ujian karena kebetulan tanggal merah, jadi saya bisa "mengusir" istri dan anak saya keluar dari rumah supaya saya bisa fokus mengerjakan ujian. Saya juga memilih mengerjakannya secara remote di rumah, jadi bukan di lokasi yang ditentukan IAAP.

Ujian CPACC

Nah hari ujian pun datang. Saya mengosongkan meja kerja saya, menyiapkan kamera dan sebagainya sebagai persyaratan ujian, juga berkali-kali mencoba software PearsonVUE untuk ngetes koneksi internet dan hardware lainnya.

Jam 1.30 saya mulai online dan bertemu dengan proctor (semacam pengawas ujian). Dia menunjukkan ID seperti KTP sebagai bukti kalau saya beneran Rifat Najmi. Sayangnya KTP saya rusak jadi saya minta pakai paspor saja. Lalu dia meminta saya menunjukkan seluruh isi ruangan, jadi saya puter-puter deh tuh webcam-nya buat nunjukin suasana ruangan ujian saya. Ternyata bukan cuma meja yang harus dikosongkan, hampir semua isi ruangan juga! Jadi kira-kira 1 jam habis untuk saya mendekor ulang ruangan.

Hari-h ujian

Akhirnya saya mulai ujian jam 2.30.

Ada 100 pilihan ganda yang harus saya kerjakan. Setiap pertanyaan punya 4 pilihan jawaban, hanya 1 yang benar. Saya yang awalnya jumawa berhasil mendapat 92% saat practice exam mulai kicep. Pertanyaannya beda semua! Mungkin hanya 30-40 pertanyaan yang sama dengan practice exam, sisanya sangat jauh berbeda.

Secara struktur sebenarnya mirip ya, ada 3 domain yang ditanyakan tapi pertanyaannya dibuat acak. Jadi misalnya habis nanya soal berapa jumlah disabilitas netra, eh langsung longkap ke Marrakesh Treaty itu mengatur tentang apa, atau tentang bagaimana penerapan kriteria WCAG 1.1.1 yang benar. Saya overwhelmed. Waktu 246 menit terasa pendek banget.

Saya mencoba menjawab yang gampang dulu, jadi kira-kira 50% bisa saya jawab sekali jalan dalam waktu 1 jam. Nah sisa 50%-nya saya ulang-ulang terus selama 2,5 jam. Bener ga ya jawaban saya?

Bakat curang sebagai warlok Indonesia pun tidak berguna. Saya bisa keluar dari webcam saat break time dan proctor juga ga akan tau saya ngapain. Nah mau buka HP untuk nyontek juga ga bisa, saya udah keburu lupa pertanyaannya tadi apa aja karena terlalu banyak pertanyaan yang ga bisa saya jawab.

Jadinya yaudah, saya mencoba jujur aja. Pasrah. Sisa pertanyaan yang sulit saya coba jawab capcipcup.

Selesai ujian sampai 1 minggu setelahnya saya merasa jadi orang paling bodoh sedunia.

Waktunya bangkit

Setelah semua kesadaran dan kewarasan saya balik seminggu kemudian, saya mencoba me-refresh apa saja yang saya ga bisa. Ternyata bagian WCAG dan regulasi, juga beberapa soal universal design for learning.

Saya merasa kesulitan karena pertanyaannya dalam bahasa Inggris, saya harus menerjemahkan ke bahasa Indonesia, menjawab dalam bahasa Indonesia, lalu mencari pilihan jawaban dalam bahasa Inggris yang sesuai. Wah, bolak-balik nih. Saya juga inget semua materi yang saya pelajari semuanya dalam bahasa Inggris.

Kebetulan juga saat browsing LinkedIn saya menemukan postingan seseorang yang udah ngebuat WCAG dalam bahasa Inggris sederhana (plain language). Oke, saya buat aja deh versi Indonesia-nya sekalian saya mendalami soal WCAG. Inilah cikal bakal Panduan WCAG Indonesia yang udah rilis pada 15 Mei 2025.

Saya juga udah pasrah soal hasilnya, kalo ga lolos yaudah saya coba lagi di akhir tahun. Nah aturan di IAAP itu kalau mau ujian ulang harus ada jeda sebanyak 2 periode ujian. Setahun ada 4 periode, kira-kira tiap 3 bulan 1 kali masa ujian. Artinya, saya baru bisa ujian lagi di akhir tahun.

Hasil ujian

Di suatu kesempatan saat ngobrol sama Maut, saya bilang kalau saya ngerasa gagal ujian dan bakal nyoba lagi nanti. "Saya gagal nih jadi orang Indonesia pertama yang punya CPACC," keluh saya. Eh, Maut bilang kalau tim Suarise ada yang pernah ujian juga dan lolos, dan dia satu-satunya orang Indonesia.

Tanggal 27 Mei setelah sarapan saya ga tau mau ngapain. Saya iseng aja buka web IAAP untuk ngecek nama anak Suarise di Certificant Directory. Eh bener cuma ada satu nama di Indonesia. Eh tapi kok ada yang salah? Ternyata...

Ada nama Rifat di Certificant Directory

KOK ADA NAMA SAYA?

(konteks: Pemegang sertifikasi bisa meminta namanya tidak dicantumkan dalam direktori ini, makanya nama anak Suarise tsb tidak muncul)

Saya tidak menyangka nama saya muncul karena tidak ada pengumuman apapun dari IAAP.

Sehari kemudian email pengumuman datang.

Email pengumuman dari IAAP

Sertifikat yang saya tunggu-tunggu pun baru datang seminggu kemudian.

Sertifikat CPACC atas nama Rifat Najmi

Apa selanjutnya?

Mendapat sertifikasi ini bukan akhir dari perjalanan. Saya memutuskan untuk menjadikan ini misi saya: Making Accessibility Accessible. Aksesibilitas itu harus mudah diakses, dan salah satu hambatannya adalah faktor bahasa.

Untuk saat ini saya udah merilis dua sumber daya aksesibilitas yang bisa diakses secara gratis, menggunakan bahasa Indonesia dengan standar global.

  1. Aksesibel.id: Materi fundamental tentang disabilitas dan aksesibilitas.
  2. PanduanWCAG.com: Standar WCAG dalam bahasa Indonesia praktis untuk para praktisi menerapkan WCAG dalam produk digital mereka.

Saya berkomitmen membuat keduanya tetap gratis sampai kapanpun.

Nah untuk aksesibel.id, materinya masih banyak yang belum saya selesaikan. Kalau kamu tertarik berkontribusi, hubungi saya di DM Instagram ya!