Belajar tentang ADHD

Sudah lama saya ingin menulis ini dan sudah lama pula saya men-self diagnose diri dengan ADHD karena saya merasa sangat gampang teralihkan dan di sisi lain bisa sangat fokus mengerjakan sesuatu tanpa henti. Beberapa di antaranya adalah Panduan WCAG dan Aksesibel yang saya develop tanpa henti selama beberapa hari.
Sepertinya tidak terlalu banyak hambatan berarti yang saya alami saat bertumbuh, atau otak saya memilih melupakannya, tapi saya tetap merasa ada yang aneh dan berbeda dengan diri saya. Saya merasa perlu mencari jawaban: Apa yang aneh dengan diri saya? Saya sudah sering mencoba beberapa asesmen online untuk mengetahui apa yang salah dengan diri saya selama beberapa tahun terakhir dan semuanya mengarah ke ADHD.
Baru akhirnya pada 11 Juli 2025 saya memberanikan diri untuk membuat janji dengan psikiater dan saya mendapatkan jadwal pada 24 Juli 2025. Di hari itu saya menceritakan semua hal yang meresahkan saya. Psikiater juga menanyakan banyak hal yang berkaitan dengan keluhan saya. Akhirnya saya diresepkan Prohiper untuk membantu saya mengatasi distraksi dan bisa cepat mendapatkan fokus.
Obat ini sungguh membantu saya. Semua kebisingan dalam pikiran seakan menghilang. Bahkan dunia terasa jauh lebih cerah. Soundtrack saya selama beberapa hari itu adalah Walking on Sunshine oleh Katrina and The Waves. Selain itu, sejak didiagnosis, saya juga membeli beberapa buku untuk mengetahui apa itu ADHD agar saya bisa menerima diri saya seutuhnya.
Sudah hampir 5 bulan sejak saya resmi didiagnosis sebagai ADHD oleh ahlinya, dan saya rasa sudah saatnya menulis refleksi apa saja yang saya pelajari selama ini.
Superpower yang saya dapatkan
Istri saya sering menyebut diri saya sebagai seorang peramal karena apa yang saya ucapkan selalu benar. Saya sudah beberapa kali bilang ke istri saya soal kecurigaan saya terhadap anak orang yang saya temui, "kayaknya dia ASD, deh," atau ketika ada masalah saya nyeletuk "ah, paling nanti ujung-ujungnya bakal begini." Dan beberapa waktu kemudian ucapan saya terbukti benar. Mungkin ini karena otak saya terlalu aktif menghubungkan titik-titiknya untuk mencari pola dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Saya juga bisa sangat fokus saat mengerjakan sesuatu yang menarik bagi saya. Kata kuncinya adalah menarik. Menarik ini artinya bisa bermacam-macam, misalnya saya mendapatkan reward (misalnya gaji, honor, dsb), saya sedang ingin mempelajari sesuatu (misalnya belajar semiotika saat tugas akhir dulu), atau saya ingin menguji kemampuan diri saya sendiri (misalnya mengambil CPACC atau membuat Panduan WCAG).
Saya juga bisa melihat celah untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan saya. Sekitar 15 tahun lalu saya pernah mengerjakan 3 situs web hanya dalam waktu 3 hari. Saat itu saya membuat sistem ticketing, blog berbasis user-generated content, dan simple "company" profile, untuk Indonesian Youth Conference. Saya menggunakan WordPress untuk ketiganya. Saya mencoba membangun sistem ticketing sendiri dengan mengakali WordPress agar mengirimkan data contact form-nya ke Google Sheets, dan mengirim tiketnya lengkap dengan QR code-nya ke pembeli lewat email. Semua saya pelajari sendiri di masa belum ada AI dan mesin pencari belum secanggih itu.
My kryptonites..
Walau saya bisa berada dalam kondisi hyperfocused, tapi untuk menuju kondisi itu sangat sulit karena otak saya terlalu bising. Saya bisa memikirkan 4-5 hal berbeda dalam waktu bersamaan dan ini sungguh melelahkan. Ini juga membuat saya suka lupa mau melakukan sesuatu karena ketika ingin mengerjakannya tiba-tiba pikiran terdistraksi oleh hal lain yang memberikan false sense of urgency. Akhirnya saya tidak mengerjakan apa yang perlu saya lakukan.
Selain itu, karena saya cepat belajar (thanks to my pattern processing superpower!), saya sering kewalahan menghadapi orang lain yang tidak bisa melakukan hal yang sama. Dulu saya merasa kalau saya bisa harusnya orang lain juga bisa. Tapi kenapa yang lain tidak bisa? Saya jadi suka menyalahkan diri sendiri karenanya, apakah ekspektasi saya terhadap orang lain terlalu tinggi?
Nah, yang baru saya sadari adalah soal rejection sensitivity dysphoria (RSD). Saya sangat embrace kritik atas pekerjaan saya, tapi saya sulit menerima kritik terhadap diri sendiri. Rasanya seperti sedang dipermalukan. Juga mengenai relasi saya dengan orang lain. Saya merasa lebih baik saya memutuskan hubungan dengan orang lain sebelum orang itu melihat ada flaws di diri saya. Sudah sering saya memutus komunikasi dengan teman-teman dekat saya karena perasaan ini. Tapi, kalau saya yang "diputuskan", rasanya dunia sudah runtuh.
RSD ini juga yang membuat saya sulit dekat bahkan percaya dengan orang lain. Di usia saya yang sudah sekian ini, mungkin jumlahnya tidak sebanyak ibu jari di seluruh badan saya. Nah, sekalinya ada orang terdekat mengecewakan saya, rasanya menyakitkan sekali. Sangat menyakitkan. Rasanya hampa, tidak semangat, ingin mengakhiri hidup. Padahal harusnya tidak seperti itu, namun sensasi dan persepsi saya yang membuatnya demikian. Efeknya di saya sungguh hebat dan itu wajar ditemui di orang dengan ADHD kata psikolog saya.
Penutup
Diagnosis ADHD ini tidak mengubah siapa saya, tapi mengubah cara saya melihat diri saya sendiri. Saya masih orang yang sama: Rifat dengan ide yang berloncatan, fokus yang berlebihan, dan emosi yang terlalu intens. Bedanya, sekarang saya tahu ini bukan karena saya malas, lemah, atau berbeda. Ini hanya cara otak saya bekerja.
Dan, untuk pertama kalinya, saya merasa tidak perlu terus-menerus berperang dengan diri saya sendiri.
Lastly, if you're reading this, thank you for helping me grow and to continually renew myself.