Desainer dan risiko kecerdasan buatan

2 December 2019 · Career, Design
(Definisi desain oleh John Heskett. Kredit gambar: Ernest Ang)

(1) Desain adalah (2) mendesain sebuah (3) desain untuk menghasilkan (4) desain. Tugas desainer bukan hanya membuat desain seperti yang dipahami oleh awam, melainkan keempat definisi desain berikut:

  1. Desain sebagai konsep, ide, dsb.
  2. Desain sebagai tindakan/aktivitas.
  3. Desain sebagai rencana/rancangan atau tujuan.
  4. Desain sebagai hasil.

Kemampuan kecerdasan buatan saat ini berada dalam desain definisi kedua dan keempat: sebagai tindakan dan hasil. Definisi pertama dan ketiga masih belum bisa dilakukan oleh kecerdasan buatan: Konsep, ide, rancangan, tujuan, dan sebagainya. Dengan kata lain, kecerdasan buatan itu masih hanya berupa alat bantu saja.

Hal ini serupa dengan pendapat Ginny Rometti, CEO IBM.

The initials AI would be more helpful to artists if they were understood by designers as augmented intelligence, instead of the scarier-sounding artificial intelligence.

Kecerdasan buatan yang digadang-gadang akan menggantikan desainer sebenarnya hanya (mampu) membantu meringankan tugas desainer. Desainer menghabiskan banyak waktu untuk melakukan tugas remeh-temeh, seperti menghilangkan latar belakang yang kompleks, dan kecerdasan buatan bisa meringankan tugas dan menghemat waktu tersebut.

Situs web Algorithm-Driven Design merangkum berbagai peran kecerdasan buatan ke dalam sebuah katalog yang cukup lengkap. Situs web ini menyapa pengunjung dengan sebuah pertanyaan, akankah robot menggantikan desainer?

No. It’s more like an exoskeleton for designers. Algorithm-driven design tools can help us to construct a UI, prepare assets and content, and personalize the user experience.

Berdasarkan informasi-informasi ini, tentu saja seorang desainer harus menyiapkan diri agar tidak terjebak di definisi kedua dan keempat. Kalau hanya mengejar keahlian mengedit di Photoshop, tentu saja desainer jenis ini bisa-bisa tidak dibutuhkan lagi.

Yang harus dilakukan adalah memahami desain sebagai definisi pertama dan ketiga, alias ilmunyalah yang perlu diperdalam lagi. Malah justru lebih baik lagi mengejar cita-cita sebagai desainer yang mendesain kecerdasan buatan.


Catatan: Ini adalah salinan jawaban saya di Quora. Saya akan menulis ulang jawaban yang saya suka di Quora ke dalam blog saya.


Have any questions or comments about this post? Contact me using the form on this page or on Instagram at @RifatNajmi.